Terima Kasih

25Jul09

Berterimakasihlah pada yang telah memberimu penghidupan, meskipun itu kuda sekalipun.

(Nyai Ontosoroh dalam Bumi Manusia)


Diambil dari milis jurnalisme

Begini JK dan SBY sama-sama Mr. Tega…
Tidak peduli pada rakyatnya.

Berikut adalah daftar harga minyak di seluruh dunia. List selengkapnya bisa dilihat di:
Gasoline usage and pricing

Di Venezuela harga bensin hanya Rp 460/liter, di Saudi Arabia Rp 1.104/liter, di Nigeria Rp 920/liter, di Iran Rp 828/liter, di Mesir Rp 2.300/liter, dan di Malaysia Rp 4.876/liter. Rata-rata pendapatan per kapita di negara-negara tersebut lebih tinggi dari kita. Sebagai contoh Malaysia sekitar 4 kali lipat dari negara kita.

Anehnya di negara kita premium yang saat ini harganya Rp 4.500/liter akan dinaikkan hingga Rp 6.000/liter sementara harga Pertamax sudah mencapai Rp 8.700/liter.

Jelas bedanya antara negara yang mementingkan kepentingan rakyat dengan negara Neoliberalis/ Pro Spekulan Pasar yang hanya mengikuti harga minyak Internasional.

Catatan: Foto diambil oleh Nurokhman, demo menolak kenaikan BBM di Alun-alun Purwokerto.


Batik Banyumas

07Mei08

Sebuah rumah di Jalan Kebutuhan No 13, Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja Banyumas penuh oleh kain batik. Sebagian berupa lembaran kain, yang lain sudah tertata berbentuk hem, rapi. Si empunya rumah, Sugito, 67 tahun, sibuk melipat dan memasukkannya ke lemari kaca. Maklum, belakangan ini pesanan terhadap batik banyumas sedang tinggi.

Sebelumnya, setelah tahun 1970, batik banyumas seperti mati suri. Di pasar sendiri, orang lebih mengenal batik dari Pekalongan, Jogjakarta maupun Solo. Masalahnya ada pada harga. Batik Pekalongan yang banyak beredar di pasar diklaim sebagai batik printing, yakni batik yang dibuat dengan tenaga mesin. “Batik printing hanya membatik pada satu sisi kain, yang lain kosong,” ujar Sugito.

Sekretaris Koperasi Persatuan Pengusaha Batik Indonesia (Perbain) Kabupaten Banyumas, Ahmad Dawahis (70), mengatakan, Batik Banyumas mulai diproduksi sejak tahun 1962. Salah satu kekayaan tradisi Banyumasan itu pernah mencapai puncak kejayaan hingga tahun 1970. Ketika itu, Kabupaten Banyumas mempunyai sedikitnya 105 pengusaha batik. Sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Sokaraja, yang lain berada tersebar di Kota Banyumas lama dan Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur.

Di tahun itu, pengobeng (tenaga pembuat batik-red) mencapai ribuan. “Bisa mencapai sekitar 5000 sampai 6000 pengobeng,” ujarnya. Produksi pengusaha batik itu sendiri bergantung kepada keuletan kerja ribuan pengobeng. “Sangat banyak, Perbain dulu juga ikut membantu pemasaran dengan mengirimkan produksi batik ke Perbain pusat,” tandasnya.

Pada masa keemasan itu, tiba-tiba batik printing dari Pekalongan, Jogjakarta masuk ke wilayah Banyumas. Menawarkan harga yang murah, pasar, akhirnya merontokkan pengusaha batik di Banyumas satu persatu. Sekarang, data yang ada di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) hanya ada 12 pengusaha batik yang masih bertahan, tersebar di berbagai kecamatan. Jumlah pengobeng yang ribuan, kini hanya ada sekitar 446 pengobeng. Kebanyakan di antara mereka adalah pewaris usaha batik dari era 70-an.

Pembuatan batik model printing, membuat harga baju seragam bermotif batik hanya Rp 30-40 ribu. Sementara batik cap bisa d iatas Rp 50 ribu. Batik tulis dihargai ratusan ribu, bahkan mencapai jutaan rupiah. Sekarang, pelaku usaha batik di Banyumas tetap bertahan dengan membuat batik tulis, batik cap dan sedikit di antaranya yang menggunakan sablon. Akibatnya, harga lebih tinggi ketimbang batik printing asal Pekalongan, Solo atau Yogyakarta.

 

Situasi dunia perbatikan yang kritis menggugah Pemkab Banyumas bergerak. Bupati menerbitkan Surat Edaran (SE) Bupati tertanggal 20 September 2003. Isinya menghimbau Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengenakan Batik Banyumasan setiap Jumat. Tak hanya itu, sejumlah pengusaha juga mendapat suntikan dana dan ikut pelatihan batik di Jogjakarta.

Selain itu Pemkab juga ikut menyertakan Batik Banyumas dalam berbagai pameran sebagai promosi.

Sugito pemilik batik Cap R. mengatakan, sejak promosi digencarkan, dia mempu memproduksi 1050 potong perbulan tahun ini. Dibandingkan tahun 2003 yang hanya memproduksi 250 potong per bulan, kenaikan mencapai 250 persen. “Sekarang lebih baik, mudah-mudahan bupati besok masih tetap nguri-uri Batik Banyumasan,” tandas Sugito. Tahun besok, bulan Februari ada Pemilihan Bupati di Banyumas.

Kurang lebih 3 tahun, Batik Banyumasan mulai mendapat tempat. Jumlahnya yang masih terbatas membuat pecinta batik dari kalangan menengah ke atas justru memburunya. Mereka terutama menggemari motif yang klasik. Bahkan para kolektor berburu peninggalan Batik Banyumasan produksi tahun 1970-an dengan harga jutaan rupiah.

Meski begitu, Sugito tetap saja ‘ketar-ketir’. Batik printing tetap menghantui usahanya. Suatu kali, dia berkisah, ada seseorang datang ke tempatnya mengaku akan memesan batik sebanyak 600 potong. Lantas, orang tersebut meminta motif yang digambar langsung oleh Sugito. Tanpa pikir panjang Sugito menyanggupi apa yang diinginkan konsumen. Beberapa minggu kemudian, justru motif yang dia buat sudah menjadi seragam dipakai orang-orang di terminal.

Selain kualitas, motif juga menjadi daya tarik Batik Banyumasan. Di Banyumas sendiri, kata Sugito memiliki begitu banyak motif. “Saya mengenal sekitar 150 motif Batik Banyumas,” ujarnya. Yang dia pajang di tempat usahanya hanya sebagian kecil. Di antaranya, lumbon, pringsedapur, kawung, limaran, tirtatejo, uger, sidomukti dan bondowono. “Wah saya tak bisa menyebutnya satu persatu,” ujarnya.

Yang lain, yang membedakan Batik Banyumasan dengan batik dari Solo atau Pekalongan adalah warna. Menurut Sugito, warna asli Batik Banyumasan adalah batik cokelat dan hitam dengan plataran warna kuning tua. “Biasanya Jogja maupun Solo warnanya putih,” tandasnya.

 


Saya baru kenalan hari ini. Namanya Chitika. Nama yang cantik bukan? tapi dia sama sekali bukan manusia, apalagi perempuan.

Dikenalkan oleh seseorang anggota di salah satu milis. Semacam PPC, mirip-mirip google adsense.

Pengantarnya begini,

Selain Google Adsense, salah satu program pay per click (PPC) yang memberikan potensi online earnings cukup menarik adalah Chitika. Lebih dikenal dengan nama generik Chitika eMiniMalls, yang memang merupakan flagship product Chitika (meskipun Chitika bukan hanya eMiniMalls), Chitika memiliki beberapa kelebihan dibanding program-program PPC sejenis.

Nah, tertarik? bila iya klik di sini .

Semoga bermanfaat.


Gubahan Balonku

15Apr08

Ada-ada saja ulah motivator mencari uang memberi semangat. Di hadapan ratusan guru TK, menganalogikan begini:

Guru yang tak kreatif memberi pelajaran menyanyi pada anak didiknya,

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hijau kuning kelabu
Merah muda dan biru

Meletus balon hijau
Dor…..

Hatiku sangat kacau
Balonku tinggal empat
Kupegang erat-erat

Lantas, siswa yang kreatif mempelajari dan menggubahnya,

Balonku ada lima
Rupa-rupa warnanya
Hujau kuning kelabu
Merah muda dan biru

Meletus balon hijau
Dor..

Kutiup 5 balon baru
Kujual pada guru
Semuanya jadi laku

Perhatikan, pada ‘kutiup 5 balon baru’ nadanya jadi aneh. Karena ada tambahan kata lima. Meski terkesan dipas-pasin, tapi lumayan bisa membuat para guru tersenyum.

Bukan hanya guru, belakangan ini, bisnis motivasi memang marak. Dari yang memang benar-benar profesional, sampai yang hanya bermodal ‘CO2T’, menjual mimpi.

Karena banyak orang stres, kali ya..


Ampun. Saya yang penggemar berat Arsenal harus siap-siap gigit jari. Big match yang digelar hari ini (13/4) hilang dari layar kaca. Kata detik.com, ini gara.gara Depkominfo menghentikan siaran Astro.

Ah, lagi-lagi pemerintah. Punya kuasa senangnya main blokir!


Kreatifitas memang diperlukan, dalam bidang apapun. Tanpa kecuali. Guru butuh kreatifitas agar belajar jadi menyenangkan. Pengusaha butuh kreatif agar usahanya berjalan. Pedagang butuh kreatif agar dagangannya laku. Dan sebagainya dan sebagainya.

Pun begitu soal bohong.

Begini ceritanya, siswa SMP bernama Edun dikenal oleh teman-teman sekelasnya sebagai anak yang rajin. Dia juga disiplin.

Kampungnya terletak sekitar 5 KM dari tempat dia sekolah. Dia butuh naik angkot untuk sampai ke sekolahnya itu. Suatu waktu, Edun telat berangkat. Dia naik angkot bersama dengan segerombolan anak lain yang juga telat.

Dipersingkat, tibalah mereka ke sekolah. Edun yang memang disiplin itu tergopoh-gopoh menuju ruang BP. Tak mau ketinggalan, teman-teman dia yang jumlahnya sekitar 7 anak itu juga menyusul di belakang Edun.

Setelah itu, Edun meminta surat ijin masuk ke ruang BP setelah mencatatkan diri terlambat disertai alasannya di form yang sudah disediakan BP. Teman-temannya juga melakukan hal serupa. Di lembar berikutnya, mereka secara bergantian mengisi nama masing-masing dan memberi tanda petik di bagian alasan. Tanda petik maksudnya adalah idem, atau sama. Mereka pikir Edun yang rajin itu ‘menyelamatkan’ mereka dengan memberikan alasan yang masuk akal. Begitulah tujuh orang melakukan hal yang sama.

Tapi, tak lama berselang, setelah mereka masuk kelas. Tujuh anak ini segera dipanggil lagi ke ruang BP. Sebab, alasan yang ditulis Edun, ternyata adalah ‘saya terlambat karena ibu saya melahirkan’

Pantas saja guru BP marah-marah.