Dua Teman

29Sep07

Senin, 27 September malam kemarin handphone di samping komputer menjerit mengabarkan ada yang memanggil. Terlihat tulisan Radar Ito di screen. Panggilan pertama kuabaikan. Film The Bandit di Indosiar yang diperankan secara apik oleh Mel Gibson terlalu sayang dilewatkan.

Panggilan kedua, disela jeda iklan, setelah kuangkat dia berkata, “Juni, gimana khabarmu. Aku masih di Semarang, ikut tes Wawasan,” cerocosnya bahkan saat aku belum menyerukan ‘Halo.” Dia menyambung, “Alhamdulillah saya diterima. Dalam waktu dekat, saya buat surat pengunduran diri dari Radar.”

Ito. Nama lengkapnya Ruhito, nama yang pendek sependek tubuhnya adalah alumnus Universitas Wijaya Kusuma angkatan 98. Dia tidak sendiri, bersama dengan Sofyan Nur Hidayat yang juga masih tercatat sebagai wartawan Radar, mereka memilih ‘pergi’ meninggalkan ruang kerja lama. “Saya jenuh, butuh ruang kerja baru dan yang bisa benar-benar bisa lebih mendidik,” kata Sofyan jauh-jauh hari, sebelum dia mendapatkan khabar ada tes lowongan di Wawasan.

Di telepon itu, aku tercekat. “Selamat ya. Hit, sampaikan salamku pada Sofyan,” ujarku pendek. Aku bahkan tak mampu bicara banyak.

Ruhito dan Sofyan adalah orang kesekian yang memilih hengkang dari tempatku sekarang bekerja. Sebelumnya, sudah banyak reporter harian ini datang dan pergi, sejak sebelum aku ikut terlibat.

Pamitan Ruhito dan Sofyan itu mengingatkanku pada tulisan Jakob Oetama dalam buku Pers Indonesia ‘Berkomunikasi dalam Masyarakat yang Tidak Tulus’. Pada salah satu tulisan yang secara gamblang menggambarkan sosok wartawan bernama Threes Nio itu, dia bercerita tentang sudut pandangnya bagaimana mengelola reporter. ‘Wartawan butuh sentuhan personal.” Ia jadikan judul.

Di luar persoalan gaji, ada baiknya kita belajar seperti apa yang disarankan oleh Jakob. Bahwa redaksi menjadi tata organisasi dengan segepok peraturan, itu tidak terelakkan. Sebab, the show must go on, pekerjaan berjalan terus dan dalam tempo yang sangat tinggi, tekanan-tekanan waktu, persaingan dan kualitas. Itu kenapa manajemen diperlukan untuk mengatur pekerjaan yang bersusun-susun.

Tetapi, tulisnya ‘Manajemen redaksi harus tetap dalam suasana yang hangat dan akrab, terutama berkaitan dengan motivasi, pendekatan personal harus tetap memperoleh tempat.’ Dari pengalamannya bekerja dan bergaul dengan Threes Nio, Jakob Oetama mengatakan, ‘Wartawan itu, baik pekerjaan maupun pribadinya memerlukan sentuhan personal. Ia ibarat biola. Senarnya disentuh agar menghasilkan alunan merdu. Diberi hati dan pengakuan langsung secara pribadi, jika kinerjanya bagus. Ditegur pula secara pribadi jika hasilnya kurang.

Mendengarkan dan didengarkan. Ini penting. Karena itu, Jakob dia menyitir Stephen R Covey: listening involves patience, opennes and the desire to understand-hightly developed qualities of character, mendengarkan berarti sabar, terbuka dan keinginan untuk memahami.

Hal yang lebih detil, misalnya, manajemen juga harus memberi kesempatan wartawan untuk menulis buku atau cuti kerja. Sebab dalam aktivitas yang sangat ketat dia butuh waktu khusus untuk belajar dan belajar lagi. Sabbatical atau isi batere, katanya, sangat penting dilakukan untuk menembus stagnasi dan memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru.

Lalu kata-kata Sofyan semasa magang terngiang di telingaku. “Bagaimana mau mempunyai rasa memiliki, kontrak yang katanya 3 bulan aja molor sampai 7 bulan, tanpa evaluasi.” Ditambah ID Card yang tak kunjung diambil gara-gara harus ‘menyelesaikan administrasi’, musti bertemu muka masam saat harus mengambil note book atau menyelesaikan klaim adalah kekecewaan-kekecewaan yang tak terperhatikan dan menjadi akumulasi.

Pada kesimpulan terakhir, Jakob sampai pada: semakin hebat wartawan, maka semakin sulit dia. Maka itu sedari awal yang harus dipesankan kepada wartawan adalah, kata Jakob meminjam istilah seorang editor sebuah koran lokal di Amerika Serikat: Wartawan adalah orang biasa, karena itu kami wartawan, juga kerdil, juga dihinggapi kelemahan anak manusia. Tetapi, sekalipun kita, wartawan sendiri sebagai pribadi yang kerdil, sebagai lembaga surat khabar kita harus mulia, luhur budi dan hati.

Tanpa pemahaman itu, wartawan tak lebih dari tukang tanpa wawasan, tanpa etika dan tanpa komitmen



No Responses Yet to “Dua Teman”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: