Based on True Story

29Sep07

Dewi adalah gadis sumringah. Meski temperamental, hatinya baik. Lahir dan dibesarkan di Jakarta, menempanya menjadi pribadi yang keras. Kadangpula sikap bengalnya muncul: mengurung diri di kamar jika berselisih paham dengan sang mama. Riang dan selalu ingin tampil dominan melekat kuat dalam kesehariannya. Dewi adalah perempuan berusia 22 tahun.

Berjilbab, semampai, berhidung mancung dengan tatapan yang tajam dan bibir yang tipis adalah modal yang ingin banyak dimiliki perempuan. Untuk urusan fisik Dewi termasuk golongan yang beruntung.

Tapi, tak begitu dengan perasaan. Dewi berkata dengan suara bimbang, “Dia milik perempuan lain.” Lalu seperti tercekik, dia akan mengakui, “Tapi aku masih dan akan terus menyayanginya,”

Kejadiannya tak dinyana. Terjadi begitu saja lewat kecanggihan tekhnologi yang memangkas jarak dunia. Dewi berada di Ketinggian Bogor, Dalban di Mesir. Di dunia maya mereka saling memperkenalkan diri, bercengkrama tentang hal yang remeh-temeh. Tapi, dari perbincangan yang akrab itu hati mereka saling bertaut. Meski tak terungkap di lisan, hati mereka berikrar menjadi pasangan yang saling mengisi.

Awalnya, ini mirip kisah antara Khalil Gibran dan May Ziadah. Sastrawan termasyhur yang mencintai perempuan arab. Meski tak pernah bertemu pandang, tapi hati mereka tetap berkehendak menjalin pertalian batin.

Khalil Ghibran adalah legenda yang setia. Tidak begitu dengan Dalban, dia hanyalah orang Blitar yang tengah menempa diri dan belajar di negara republik itu. Karakternya sama sekali tak tersentuh oleh gersangnya Gurun Sahara, atau menempel pada pinggiran Sungai Nil. Dalban lelaki normal yang akhirnya bertemu dengan tambatan hatinya di tempatnya belajar. Sayang, dia juga tak rela Dewi menjadi milik orang lain. Watak khas ‘playboy’ kacangan.

Jika ada bintang penghargaan untuk urusan kesetiaan, Dewi seharusnya berada di barisan paling depan. Meski antre sederet lelaki yang sudah menyatakan perasaannya, dia tetap bergeming. Pesona Dalban sulit tergusur di hatinya. Seorang realis mungkin akan berpendapat Dewi seorang yang konyol, membiarkan diri terkungkung oleh belenggu yang bahkan tidak fana.
Persoalan rasa memang rumit, sangat subjektif dan sesuai selera. Tapi, siapa yang setuju bahwa perasaan muncul secara mistis, datang dan pergi secara tiba-tiba seperti kisah hantu pada sinetron-sinetron murahan di layar kaca? Perasaan cinta, seperti juga perasaan benci dan dendam. Ada banyak faktor yang menciptakannya, dan sekarang hanya Dewi sebagai seorang perempuan yang mengetahuinya. Dewi sebagai seorang mahasiswi semeseter 8 dengan berjibun teori ilmiah di kepala tak mampu merasionalisasi fenomena ini.

Seperti Film India yang monoton dengan kisah cinta dan mengumbar kemalangan. Dewi akan menanti dan selalu menanti. Di seberang, Nidji berdendang, “Sadarkan aku tuhan dia bukan milikku, biarkan waktu, waktu…. Hapus aku..”



No Responses Yet to “Based on True Story”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: