Bunda

29Sep07

Bunda,

Sepotong malam yang lalu
Kaki ini tak kuasa menyokong tubuh
Pada tarian yang sebenarnya indah
Aku terhempas ke pojok panggung hidup
Lalu, nyeri itu terdengar seperti syair yang pahit

Bunda,

Aku tetap tersenyum
Mencerna, semuanya memang telah berlalu
Kisah itu terlalu uzur untuk diingat
Wajahnya telah bopeng oleh khianat
Dengan senyum yang tak lagi tulus

Tapi Bunda,

Biarkan senja itu tetap berdendang
Dengan suaranya yang parau
Angin mengiringinya dengan deru
Kepada laut, ia berpesan tentang kasih yang tak lekang



One Response to “Bunda”

  1. wah kalau yang nulis ini si Tomato pasti aku akan marah habis2an. soalnya pengertian “Bunda”-nya jadi lain he he he…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: