Lebaran

09Okt07

Bapak-bapak yang berpengetahuan,

Seandainya benar perayaan lebaran ada dua hari, jangan pertentangkan, ya. Sebab, kami yang miskin ilmu ini hanya tahu lebaran menjadi momentum yang sangat penting. Buktinya, saking pentingnya hari itu, semua instansi dari swasta sampai negeri merasa perlu secara khusus meliburkan para pegawainya.
Jaman sekarang pak, mana ada pengusaha yang mau merugi dengan menghentikan produksi. Sebab bagi mereka, pak, waktu adalah uang. Bapak yang berwawasan luas tentu lebih tahu soal itu. Prinsip hidup yang konon bakal dipegang sampai mati, jika ingin sukses secara ekonomi. Entahlah pak, kami sama sekali tidak paham teori itu.
Tapi pak, yang kami tahu jika para pengusaha yang tak mau rugi saja mau libur, berarti lebaran memang teramat penting. Yang terekam dalam ingatan kami, pak, adalah kata Kyai, berlebaran berarti merayakan situasi di mana kita, konon, seperti dilahirkan kembali. Sebuah hari yang mencuci semua noda. Yang mengembalikan kita pada titik nol. Betapa bahagianya, jika salah kami yang terlalu bertumpuk itu benar-benar dihapus.

Bapak-bapak yang budiman,

Benar-benar jangan dipertentangkan. Kami sudah terlalu bosan dengan perdebatan yang saling membenarkan. Merasa diri paling betul, lalu menyalahkan yang lain. Biarkan kami merayakan lebaran dengan tenang. Biarkan kami tidak takut diburu dosa, jika kami ternyata memilih hari, yang menurut bapak salah. Benar-benar jangan pak, kami yang tak pandai ini hanya punya rasa takut. Tak bisa menentukan.
Tak bisa menentukan? Benar, seperti kami yang buruh ini tak bisa menentukan sendiri hari libur, tak kuasa ikut merembug jam kerja, tak paham situasi keuangan, dan kami ‘manut’ saja mau diberi gaji berapa.
Dan kami tak pernah protes, kan? Sebab, kami tahu protes, kata pimpinan perusahaan berarti mengganggu stabilitas perusahaan, yang berarti juga bakal mengganggu kinerja perusahaan. Dan kami tahu, kami punya anak istri yang harus dihidupi. Setidaknya kami punya tanggung jawab kan, pak? Itulah pak, kami yang tak terampil ini, setidaknya masih punya rasa tanggung jawab dan takut.

Bapak-bapak yang baik,

Bapak pasti punya argumentasi, kenapa hari raya jatuh pada hari A, bukan hari B. Kami sangat menghormati, bapak adalah cerdik pandai. Cukuplah pandangan bapak itu disampaikan nanti saja. Sekarang, biarkan kami berkumpul dengan keluarga menikmati indahnya kebersamaan di kampung kami.
Otak kami, pak, yang hanya dididik sampai SMA, tak bisa mencerna perkataan bapak yang hebat itu. Apalagi, kami baru saja akan sampai di kampung. Kami membayangkan seharian bergelayut, berdiri di kereta. Mendingan kalau hanya bergelayut, pak. Kami bahkan sering harus naik ke atas gerbong demi bisa sampai kampung. Tapi kami tak mengeluh pak, bau keringat para penumpang justru mengingatkan kami pada tubuh penuh peluh di sawah.

Bapak-bapak yang pintar

Biarlah pak, jika bapak berpendapat kami umat yang tak patuh. Sungguh, kami tak bermaksud untuk begitu. Tapi, jika lebaran adalah hari suci, kami ingin merayakan kesucian ini dengan bahagia. Sebahagia anak-anak kami yang dapat baju baru yang kami beli di pinggiran jalan. Meskipun hanya setahun sekali, kami tahu pak, anak-anak sangat bergembira.
Dan kami benar-benar ingin kembali ke titik nol. Meminta ampun atas dosa yang sering kami perbuat; berbohong pada pimpinan pabrik. Kami memang kerap berbohong, pak. Saat kami lelah bekerja, kami hanya bisa bilang sakit untuk libur. Sebab, di luar itu, kami tidak bisa beristirahat. Pak, kami bahkan kerap sengaja membeli surat keterangan sakit di sebelah kontrakan kami. Sebab, kami tak ingin kehilangan jatah uang makan jika libur tanpa keterangan.
Pak, kami memang orang bodoh yang hanya bisa berbohong sakit. Kami tak punya cara lagi berbohong yang lain. Kadang kami bertanya, bagaimana ya cara berbohong agar bisa mengemplang pajak, supaya kami bisa kaya. Ah, itu terlalu jauh, pak. Kami bahkan tidak tahu apa itu arti mengemplang, kami hanya sering mendengar kata itu di televisi hitam putih di kontrakan kami. Ah, sudahlah pak. Kami hanya ingin kembali berlebaran dengan tenang. Eh, pak ngomong-ngomong, apakah para pengemplang pajak itu juga bisa suci dari dosa ya?



2 Responses to “Lebaran”

  1. mas juni yang terhormat,
    selamat lebaran ya. selamat liburan juga.

  2. 2 juniest

    Mas Kinyut yang yoi..
    Sama-sama mas, maaf lahir bathin ya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: