Koran

20Nov07

Ngurusi kok berita koran, gak ada gunanya. Ngeluarin duit buat mbayar informasi boong,”

Weit! untungnya pernyataan itu tidak sampai keluar dan didengarkan wartawan. Bahaya kalau sampai ketahuan para kuli tinta. Bisa-bisa diboikot pemberitaan dia besok. Memang yang lagi ngetrend model begituan, boikot berita, boikot peliputan, boikot ini, boikot itu. Percaya ndak? Pemboikotan itu sendiri juga diboikot. Aduh.

(Padahal, kalau menurut saya, boikot-boikotan beginian yang dirugikan juga adalah publik atau konsumen, masyarakat pembaca yang sebenarnya berhak tau informasi)

“Lha iya tho, koran itu banyak menipu pembaca.” 

Hah! dasar manusia tak bermoral. Ini sudah jadi persoalan serius, menjurus fitnah, bisa jadi masalah hukum yang gawat. Masalahnya bisa seperti Tommy Winata dengan Tempo. Gawat. Benar-benar gawat! Tommy Winata, mending kaya, punya duit buat bayar pengacara dan tetek bengeknya. Lalu, manusia yang jadi temanku ini bagaimana? Halah! kaos hitam bergambar Che Guevara itu saja jarang sekali ganti.

Dia rupanya tak ngerti, Thomas Jefferson saja sampai bilang “Saya memilih memiliki pers tanpa negara daripada negara tanpa pers” Napoleon mengagungkan media massa. “Saya lebih takut pada sebuah pena daripada seratus meriam” Lalu, pendapat Churchill yang kerap disitir juga bilang begini, “Pena lebih tajam daripada pedang”.

Baiklah, kalau kamu mati-matian mbelain koran. Aku paham, sejak masuk kampus kamu sudah ‘ditipu’ dengan slogan-slogan seolah olah pers itu dewa, yang bisa menentukan segalanya. Menentukan hitam putihnya dunia, berhak mengarahkan kemana dunia ini akan dibawa. Suci, gemagus, keminther, kemlinthi bila di hadapan masyarakat. Tapi tak berkutik di depan perusahaan sendiri.

Wooo dasar!

Lha piye, salah apa aku ngomong seperti itu. Wartawan ribut bila ada perusahaan menggaji karyawan di bawah standar. Tapi, wartawan apa pernah teriak, teman mereka sendiri digaji segitu. Sudahlah, jangan sok gemagus mbela-mbelain wartawan.

Ah yang begini ini sudah tidak bener. Mengkaitkan antara perusahaan dengan profesi. Wartawan itu sangar lho, kerjanya memeras otak mencari isu terbaik buat pembaca, memeras keringat demi dapat data yang dikejarnya, menyusun kata-kata agar informasi yang disampaikan tidak berantakan, mancari angle terbaik, sudut pandang yang tiap orang belum tentu bisa menentukan. Awas lho.. benar-benar sangar..

Pertama, Lha emang ada hubungannya tho, apa teman-teman kita itu disebut wartawan bila tidak kerja di perusahaan koran?

Kedua, Tuh khan, kamu bicara kamuflase, meskipun itu bener, tapi wartawan tetap saja orang yang kerja buat perusahaan. Dia digaji oleh perusahaan. Dalam hubungan ketatanegara, eh apa itu ketenagakerjaan, wartawan tetap saja buruh. Orang yang kerja dan dibayar perusahaan

Iya ya. Hmmm bener juga.

Nah gitu, jangan liat siapa yang berkata, tapi bobot perkataanya. Yang kuceritakan itu baru secuil masalah di dunia pers loh. Kamu sudah dengar apa yang namanya itu, wartawan amplop.

Wah, jangan nuduh. Bisa jadi fitnah, bisa jadi masalah hukum

Kamu itu, sok mbela-mbelain wartawan. Masalah amplop saja tidak tahu. Huh! Tapi sudahlah, pada intinya jangan terlalu percaya pada berita di koran. Beneran. Banyak kepentingannya, apalagi bagi kita kan bekas mahasiswa. Kita sebagai generasi penerus bangsa jangan mau dikotori pernyataan-pernyataan koran yang sudah dibeli.

Loh apalagi ini, berita dibeli.

Logikamu itu loh gak jadi babarblas. Begini, dengan gaji pas-pasan, wartawan menjalankan tugas. Untuk ongkos liputan dan tetek bengeknya butuh transportasi, bila gaji tak memadai, mau tidak mau harus ada sambilan. Kalau yang bener, bolehlah nyambi kerja lain. Tapi yang tidak, akhirnya berpikir pragmatis, menerima amplop dari sumber berita. Nah, mana ada sih jaman sekarang ngasih duit tanpa berharap imbalan. Imbalannya ya itu tadi nulis yang bagus-bagus aja. Masuk akal ndak?

Berarti bukan kesalahan wartawan dong, tapi kesalahan perusahaan yang punya wartawan.

Siapa yang peduli, tapi pada intinya berita jadi gak bener. Keluar duit sedikit-dikitnya, cari untung sebanyak-banyaknya. Dan perusahaan untung. Tak ada urusan berita bener ndak, yang penting laku, dapat iklan.

Oooo. Gitu ya? Bener juga. Wedhus!



7 Responses to “Koran”

  1. jadi aku juga jualan barang boongan. jadi itu banyak berita boongnya ya?

    *bergi ke mushola berfikir untuk mencari pekerjaan lain, selain jualan koran. karena koran ternyatan banyak boongya*

  2. duit lagi duit lagi. ujung ujungnya duit.

  3. berhubung lagi kebagian tugas jadi reporter radio, jadi tau deh ke-bhosok-an wartawan media cetak.:mrgreen:
    kebanyakan berita yang ditulis di koran tuh merupakan kesimpulan dari si wartawannya ajah. Di koran nulis kalo si A itu ngomong gini…padahal jelas2 si A belom ngomong sedikitpun ke media. Walaupun media elektronik juga kadang memanipulasi berita juga seh..:mrgreen:
    cuma kalo di media elektronik tuh ada bukti rekaman suara / video kalo narsumnya ngomong kaya gini atau kaya gituh…:mrgreen:
    sering tuh di koran rad lokal banyumas kaya begituhhh… wakakakakkkk😆

  4. ta link ke tempatku yo pak …😀

  5. sepisan maning aahhhh…:mrgreen:

  6. 6 juniest

    @qnewt
    tak semuanya. tapi ah, newt. kamu tau yang kumaksud. adakalanya aku punya pikiran sama denganmu, tapi aku tidak di mushola
    @3.felix radioholix
    manipulasi? tidak semuanya seperti itu mas felix, hanya ada beberapa bagian dari pekerjaan ini yang membuatku gundah. dan lagi-lagi ini hanya sekedar refleksi. soal bosok-bosokan, profesi apa di negara antar berantah ini yang tidak bosok. Ampun! bagaimana kalau aku diajari nge’mc aja.
    @ 4.felix radioholix
    silahkan pak, punyamu juga ya..

  7. 7 marsitol

    buat felix:
    berita bukan kesimpulan dari wartawan. lagian wartawan yang nulis sesuatu yang tidak dikatakan narasumbernya bisa disebut menulis berita fiktif. hukumnya dosa he he he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: