PNS dan Pacar

21Nov07

Berani keluar dari cara pandang umum? Tak mau mengikuti gaya berpikir orang kebanyakan? Jadinya ya seperti teman saya ini:

Ditinggal pergi pacar. Apa boleh buat.

Dia tak mau namanya disebut. Juga nama pacarnya yang sekarang dia panggil ‘perempuan jahanam’.

“Bagaimana bisa lelaki setampan saya ditinggalkan perempuan,” katanya.

Saya membebaskan Anda menginterpretasikan kata tampan yang dia maksud. Sekedar gambaran, lelaki ini bertubuh gempal, berpotongan rambut tipis tapi tidak gundul (bros?) berperawakan mirip tentara dan berpenampilan sederhana. Perutnya buncit. Dia juga sudah mandiri dan bekerja.

Belakangan ini, kerjanya cuma uring-uringan. Seperti halnya orang yang patah hati, tidur tak nyenyak, tapi makan jalan terus. Dia mencoba merasionalisasi keputusan sang pacar yang sudah dia gadang-gadang jadi istrinya.

“Usut punya usut, orangtuanya ingin mereka bermenantu PNS,” ujarnya lagi.

Olala.

Ya sudah. Ini masalah keringinan orang tua, yang anaknya, tak bisa membantah sedikitpun. Tapi, baiklah coba kita bedah mengapa pandangan model beginian begitu kuat, di tengah masyarakat. Bisa ditebak, muaranya adalah kemapanan ekonomi. Bagaimanapun juga PNS memberikan jaminan hidup layak di tengah kerontangnya lapangan kerja saat ini. PNS jadi favorit, ndak urusan mau ditempatkan di mana di departemen apa, kerjanya ngapain dan sebagainya. Yang penting PNS titik!

Padahal, kalau mau jujur gaji PNS juga ndak besar-besar amat.

“Wah, jangan diteruskan. Ini jadi sensitif. Ntar ada yang ndak terima lho.”
“Loh inikan curhat, trus gimana? minimal kamu tahu, bahwa kamu tak lebih buruk ketimbang mereka. Mosok menghibur teman sendiri aja ada yang nyensor.” Keterlaluan!

Dari identifikasi KPK, penghasilan PNS itu ada tiga: putih, abu-abu dan hitam. Intinya begini, gaji putih adalah penghasilan PNS dari gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan pensiun, tunjangan jabatan, dan beras. Nah yang hitam itu adalah uang komisi. Amplop. Terakhir, abu-abu, KPK memasukkan penghasilan dari insentif atau bonus, honor proyek, biaya perjalanan dinas, perumahan, transportasi, hingga ngobyek pekerjaan.

Wuits, pantesan kaya!

“Emang.”
“Tapi itu korupsi bukan?,”
“Emang. Eh salah. Ndak tau ding, silahkan tanya ke KPK.”

Jadi, saudaraku, jangan bersedih. Seandainyapun kamu bukan PNS seperti yang diharapkan, calon mertuamu yang gagal itu, kita bisa ambil kesimpulan, minimal kita sudah dijauhkan dari api neraka, tak memakan apa yang tidak seharusnya kita makan. Hehehe….

Sebentar, sebentar..

“Tapi, apa hubungannya berani berpandangan keluar menstream dengan kehilangan pacar? Dalam, penjelasanmu yang panjang lebar ini, kamu tak menjelaskan apapun,”

Oooo, tak ada hubungan ya. Maaf. Tapi aku sudah berusaha menghiburmu bukan?



No Responses Yet to “PNS dan Pacar”

  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: