Kita Emang Beda

05Des07

Baiklah, kita memang beda.

Dari sudut pandang manapun. Aku tak betah mengantarmu lama-lama berbelanja, seperti halnya kamu benci dengan bergulung-gulung asap rokok yang keluar dari mulutku. Kamu yang nyaman berada di depan televisi, memanjakan mata dengan tayangan sinetron yang mengelabui. Dan aku memilih berada di luar, bertemu dengan Harmanto, menjadi teman setia curhatnya tentang pekerjaan yang tak pernah selesai. Atau berdebat tentang sepak bola dengan pengetahuan yang sama-sama minim.

Tentang pakaian yang tak rapi, tentang rambut yang sudah mulai kepanjangan, tentang bicara jangan keras-keras, tentang besok harus bangun pagi, tentang naik motor jangan ngebut, tentang bagaimana istirahat begitu penting, tentang sarapan yang tak boleh telat, tentang celanaku yang sobek di bagian dengkul, tentang kaos hitamku yang kusam. Semua itu, menurutmu adalah, “Bagian buruk yang harus sedikit demi sedikit dikikis.”

Baiklah. Dari dulu aku juga menyimpan nasihatmu. Persoalan dipakai atau tidak, itu urusan lain.

Dan kamu protes bila kaos hitam itu kupakai lagi. Ujungnya adalah pertengakaran, berdebat panjang lebar tentang sesuatu yang tidak mutu. Dan paling-paling, kamu hanya menangis, melepas kekesalanmu tentang aku yang menurutmu, “Lelaki bengal untuk urusan selera..” Aku biarkan. Sebab aku tau, tak lama lagi kamu akan menghubungiku, saat waktu makan tiba. Dan kamu akan mengingatkan tentang penyakit magh yang kumiliki. Tak boleh makan dengan sambal yang kebanyakan.

Malam adalah temanku, itu mengapa aku lebih menyukai bulan ketimbang matahari. Sebagaimana sekarang aku menikmati aktifitasku tatkala surya sudah kembali ke peraduan. Dan kamu sebaliknya, tak menyukai gelap karena kamu seperti orang pada umumnya yang mengabaikan cahaya bulan hanya untuk pengantar tidur. Aku tau, kamu tak suka senyap.

Kamu bahkan tak kenal siapa Thom Yorke, vokalis Radiohead yang lagu-lagunya begitu kugemari.

Tapi kenapa sampai saat ini kita bisa bertahan? Kita tau, waktu 5 tahun bukan waktu yang pendek untuk saling mengerti bukan?

“Entahlah. aku tidak tahu!” ujarku

Kubiarkan kamu merapikan buku-buku yang tergeletak di samping komputer, setelah membersihkan kamar yang seperti kapal pecah. Lalu kamu berkata sangat pelan, “Aku ingin selalu menyayangimu dengan cara yang sederhana. Sebisaku.”

Ah….



8 Responses to “Kita Emang Beda”

  1. komen mburi. nyampah ndisit

  2. mulane komen ya nang blog wong liya dadi nggone koe ana sing komen. tanggalkan gengsi. nek pancen tulisne ala diakuni bae. aja isin.

  3. hetrixx sisan

  4. bukan hanya kaos hitam, tapi juga sarung kotak-kotak ijo🙂

  5. seprtinya indah bahagia.saling mencintai.tulus.saling mengerti. menyayangi. ah..

  6. seprtinya indah.bahagia.saling mencintai.tulus.saling mengerti. menyayangi. ah..

  7. 7 juniest

    2. @qnewt
    aku juga comment di tempatmu. Tidak ada gengsi, aku juga buruk bercomment
    @ marsitol
    itu jimat, bila kena air kesaktianku ilang

  8. saya ikut nyampah yaks..

    Tapi kenapa sampai saat ini kita bisa bertahan? Kita tau, waktu 5 tahun bukan waktu yang pendek untuk saling mengerti bukan?

    “Entahlah. aku tidak tahu!” ujarku

    hmm…kadang2 cinta memang tak bisa beralasan…
    apa jangan2 karena cinta memang buta……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: