Bu Becak yang Tak Punya Becak

09Des07

Kami mengenalnya sebagai bu Becak. Menempati kontrakan yang sama, bu Becak tinggal kurang lebih dua tahun dengan kami, anak-anak kost yang bandel. Kami tak pernah berusaha mencari tau siapa nama asli perempuan paruh baya ini. Yang kami tau, suaminya yang jarang pulang ke kontrakan itu bekerja sebagai tukang becak dan mangkal di depan kampus.

Anaknya tiga. Si sulung di bangku SMP, yang kedua SD dan yang ketiga sedang belajar jalan.

Pagi kemarin, dia mengetuk pintu kamarku saat aku masih tidur. “Mas, ngapunten ngganggu. Ingin ngobrol sedikit,” katanya saat kubukakan pintu kamar.
“Monggo bu.”

Lalu, dia bercerita. Sekitar dua tahun lalu, dia pinjam uang di salah satu BPR di Purbalingga. Jumlahnya Rp 3 juta. Lima bulan pertama dia mengangsur Rp 500 ribu. “Artinya sisa pinjaman saya ketika itu tinggal Rp 2,5 juta,” ujarnya. Merasa tak kuat mengembalikan utang, dia menyerahkan sepeda motor Honda 800 miliknya yang dia jadikan sebagai barang jaminan. Di taksir oleh petugas waktu itu harganya Rp 3 Juta.

Ya dia pikir semua sudah beres. Tanpa perjanjian, tanpa kuitansi, tanpa apapun. Dia hanya lega dan gundah: utangnya lunas, motornya melayang.

Dua tahun berlalu.

Dan tibalah pada sebuah pagi, ada surat melayang jatuh di bawah pintu. Pada intinya, surat tersebut adalah tagihan bu Becak masih harus mengembalikan utang sejumlah Rp 500 ribu. Utangnya Rp 300 ribu dan bunga Rp 200 ribu. “Gawat. Saya langsung jual becak untuk melunasi utang itu.”

Bukan apa-apa, dalam surat itu juga tertera akan diperkarakan ke pengadilan jika si Ibu tidak melunasi sesuai dengan jangka yang sudah ditentukan. “Saya sebaiknya bagaimana, Mas?”

Aduh.

Nyawa belum juga kumpul, otak masih leled. Tapi ada beberapa kejanggalan dari apa yang disampaikan bu Becak.
1. Mengapa baru setelah dua tahun surat tagihan dilayangkan
2. Kenapa tidak ada bukti administrasi pelunasan hutang dengan pembayaran motor, baik kuitansi atau surat-surat lain.
3. Motor bisa dijadikan jaminan, artinya jumlah pinjaman lebih kecil dari nilai motor.
4. Kalaupun harga jual lebih kecil, mengapa tidak diberitahukan sejak awal.

“Coba bu. Njenengan minta kejelasan saja dulu. Sebenarnya yang terjadi bagaimana,” kataku.

“Sudah saya tanyakan mas, katanya ada pergantian pimpinan,”

Tipudaya apalagi ini? pimpinan boleh ada pergantian, tapi bukankah mekanisme masih tetap sama.
“Punten banget mas, malah bikin sampeyan mumet. Ndak papalah, akan saya lunasi. Toh saya sudah jual becak.”
Lhadalah. Lantas bagaimana saya memanggil ibu ini nanti. Bu becak yang tak punya becak?

Tulisan ini sepihak berdasarkan penuturan bu becak, tanpa konfirmasi.



3 Responses to “Bu Becak yang Tak Punya Becak”

  1. semoga bu becak menjadi bu angkot, meski itu dari anak sulungnya, atau dari anak keduanya jadi bu bis, atau dari bungsunya bu travel. Dia mendengar tentunya. Dia mendengar. anak – anaknya pasti bisa mengurus administrasi.

    aku iudha yang tanpa motor, semoga bermotor.

  2. posting barunya manaaaaaaaaaaaaa???
    huh tidak produktiff………….

  3. tidak produktif…mana posting barunya…huh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: