Sepak Bola Wanita, Riwayatmu Kini

04Apr08

angga.jpg

Melihat aksi Eka Wijayanto, atau Christiano Ronaldo sekalipun, di lapangan bola tentu sudah biasa. Tapi, bagaimana jika yang menggocek bola adalah Suryati, Endang atau Selly? “Histeria penonton tak terbendung. Kita melihat mereka mengitari lapangan, memberi semangat dan sesekali menjerit,” kata Sri Wilujeng, mantan pesepakbola Banyumas.

Sayangnya, tontonan itu tak mudah lagi didapat. Sepak bola wanita, seperti lenyap sejak kurang lebih 12 tahun silam. Di tahun 1995, pemain bola wanita banyak yang hijrah ke Cilacap. Di Banyumas, tepatnya Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, tempat tinggal kebanyakan pemain bola wanita, mereka dihujani kritik. “Beberapa orang mengatakan sepak bola haram,” ujar Sri mengingat.Sri Wilujeng adalah orang yang paling terpukul atas vonis itu. Dia inisiator berdirinya Kendedes, sebuah klub sepak bola di Cilongok yang juga pernah berkibar menjadi klub sepak bola wanita kebanggaan Banyumas.

Didirikan tahun 1986, Kendedes berusaha mewadahi bakat bermain bola para wanita di Cilongok dan sekitarnya. Setelah melalui seleksi pemain, setidaknya ada 12 nama yang lolos kriteria. “Saya lupa nama lengkapnya, tapi saya masih ingat nama-nama panggilan mereka,” ujar Sri sembari menyebut nama Endang, Inah Warsinah, Din, Gonyes, Suryati, Tati, I’i, Tuminah, Siti, Aminah dan Supri.

Sri dan teman-teman hanya bermodal semangat. Mereka tak punya dana sendiri, apalagi akses dana ke pemerintah. Yang mereka ketahui, mencari uang harus dengan penyelenggaraan even. Lalu, turnamen bola wanita digelarlah untuk pertama kali.

“Kepentingan kita ketika itu adalah melakukan sosialisasi, bahwa ada juga wanita yang hobi sepak bola dan berani tampil di depan umum,’ ujar Sri. Turnamen ini sedikitnya menyedot minat 16 klub sepak bola wanita di Banyumas. Mereka berasal dari berbagai desa di Banyumas, dan kebanyakan mereka juga membentuk tim dadakan. “Setelah kita umumkan ada turnamen sepak bola wanita, mereka baru membentuk,” lanjut Sri.

Meski tak mengakui lemah, toh Sri rupanya tetap membedakan sepak bola wanita dan pria. Khusus even itu, dia dan teman-temannya hanya menggunakan separuh lapangan sebagai tempat bertanding. “Lapangan yang ada di Cilongok itu lebar, jadi kita pakai separuhnya saja,” kilahnya. Tapi yang jelas, even itu ramai, menghasilkan uang dan bisa dijadikan modal bagi Kendedes menapaki pertandingan-pertandingan selanjutnya. “Hasil kegiatan itu kita gunakan untuk membeli kaos, sepatu dan juga jaket,” katanya.

Lalu, melawatlah mereka ke Tegal dan kota-kota lain membawa nama Kendedes dan Banyumas. Sayangnya, tatkala Kendedes relatif mapan, serangan mulai berdatangan. “Mereka justru bukan dari tim sepak bola lain, melainkan orang yang tidak suka sepak bola wanita,” kisah Sri.

Selly , yang juga teman Sri mengatakan, mereka yang tidak suka menggunakan logika haram halal untuk sepak bola wanita. “Kita bukannya diam, tapi image yang berkembang di masyarakat jelek. Jika mau mengkritik atlit wanita, jangan hanya sepakbola, tapi juga renang, atau badminton atau yang lain kan banyak,” ujarnya. Apa boleh buat, meski berat hati, Kendedes akhirnya dibubarkan tahun 1995. Para pemainnya, yang memang mencintai bola, memilih tempat lain menampung hobi mereka.

Sri Wilujeng, Siti, Warsinah, Din dan Gonyes memilih klub Putri Wijayakusuma sebagai tempat bernaung dan menyalurkan hobi. Tapi, di klub inilah Siti memperoleh banyak pengalaman. Mereka diberangkatkan ke kota-kota besar untuk melawat atau meladeni tantangan klub lain. “Yang paling kita ingat adalah Kota Lombok dan Bali. Kita pernah bertanding di sana,” ujar Endang, kolega Sri.

Bertahan selama 5 tahun di Putri Wijayakusuma, tahun 2000, Siti maupun Sri memilih hengkang lagi. Tapi tidak ke klub lain, mereka memilih jalan lain menjuadi ibu rumah tangga yang baik. Sri lebih mengurus berdagang dan berbisnis, sementara, Siti berkonsntrasi pada pertaniannya. “Dasarnya saya memang senang olah raga, saya tetap bervoli sambil sesekali bad minton,” kata Sri.

Tapi, tahun ini, Sri dan Siti tak kuat lagi membendung hasrat bermain bola. Waktu-waktu ini, mereka sudah memberitahu teman-teman mereka bekas satu tim untuk menyusun lagi kekuatan. Mereka bermaksud mengembalikan kejayaan mereka semasa muda. Bendera Banowati sudah dikibarkan, kucuran dana dari Persibas dan Dewan, meski sedikit, sudah mengalir. “Kita tunggu momen pasca Pilkades,” ujarnya.

Sri dan Siti menyusun rencana bakal berlatih sebulan dua kali.

Tapi, Sri dan Siti tak lagi muda. Sri, 48 tahun dengan seorang cucu, dan Siti 3 tahun lebih muda juga sudah bercucu. “Dan beberapa waktu lalu, kami baru saja dibantai 6-0 oleh Putri Wijaya yang juga mantan klub kami,” ujar Sri. Tapi, yang lebih penting adalah regenerasi sepak bola wanita. Itulah alasan kedua nenek ini masih setia berlaga di lapangan bola.(zunianto subekti)



2 Responses to “Sepak Bola Wanita, Riwayatmu Kini”

  1. Masoolloo….
    Ini
    to , bal-balan nyang menghebohkeun Jawa Tengah jaman kolobendu doloo ituu….

    ***geleng-geleng kepala….***
    đŸ™„

  2. 2 Juni

    jangan2 pura2 kaget gitu ah mbel


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: