Teman Saya Pergi (Lagi)

09Apr08

Sekali lagi, saya ‘kehilangan’ teman. Karib saya lebih memilih meninggalkan pekerjaan, tempat kami mengais receh. Kejadian ini bukan yang pertama, saking seringnya, saya bahkan sudah lupa siapa saja yang sudah angkat kaki dari kantor ini. Dengan berbagai latar belakang, dan alasan yang berbeda.

Suatu malam, dia memang sempat curhat. Dia sedang mempertimbangkan untuk undur diri karena persoalan lelah. Capai lahir, capai fisik.

Tapi saya berusaha meredam nafsu dia itu. Saya bilang, seandainya dia mundur, itu tak akan menyelesaikan masalah. Malah akan semakin menambah beban dan pusing pemerintah.

Lho? Kok bisa?

Tentu saja bisa. Pemerintah sedang giat mengentaskan pengangguran, kok kamu malah dengan suka rela menyemplungkan diri dalam lembah nista itu. Meskipun hanya satu orang, bukannya itu akan menambah statistik, pengangguran telah bertambah satu orang lagi.

Hehehe, baiklah itu alasan yang dipaksakan. Saya juga tak yakin pemerintah urusan dengan hal-hal beginian. Seandainya mereka peduli, skandal BLBI yang melibatkan para konglomerat hitam tentu bakal selesai. Mereka juga tak membiarkan perputaran uang hanya dimiliki konglomerasi yang hanya segelintir orang. Mereka bakal nguri-uri PKL yang merupakan penyangga perekonomian masyarakat kecil dan memberikan akses permodalan bagi Usaha Kecil Menengah (UKM).

Ada alasan lain yang lebih masuk akal; perusahaan masih butuh karyawan yang mau bekerja keras dan dibayar murah.

Duh, Marx memang pinter, dia memprediksi sengketa buruh majikan jauh-jauh hari. Meskipun perusahaan menjelmakan diri dalam bentuk yang paling manusiawi, tapi kesenjangan yang berlebihan tetap saja memicu konflik. Ditambah, ada juga tipe orang yang sebenarnya pekerja tapi sok berlaku ala pemilik modal. Ini yang paling menjengkelkan.

Tapi teman saya itu punya alasan lain yang lebih sederhana. Dia hendak menyelesaikan skripsi, setelah itu bercita-cita mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Bukan melulu kesejahteraan, tapi juga ketenangan diri.

Saya bilang ini persoalan mentalitas. Ah, mentalmu saja yang belum kuat, masuk dalam pertarungan yang sebenarnya di dunia kerja. “Bisa jadi benar,” kata teman saya itu. Tapi minimal, lanjut dia, “Saya sudah tidak bergantung lagi pada orang lain dalam menentukan apa yang akan saya lakukan hari besok.”

Mengenai kebebasan itu, saya tanyakan juga kepada Agung, penjual warung emperan depan. Dia bilang, ada enaknya ada juga pahitnya. Pahitnya, kalau hujan dagangan sepi dia harus nombok. Kalau pas ramai, bisa meraup untung banyak.

“Tapi saya tidak kuatir kena SP, tidak kuatir kena semprot bila berangkat telat atau libur tiga hari, paling banter pembeli nggrundel,” katanya.

Hmmmm, menjadi tuan bagi diri sendiri emang enak.



One Response to “Teman Saya Pergi (Lagi)”

  1. 1 Elys Welt

    usai kuliah banyak yg tanya kenapa aku tak ikut ujian CPNS, jawabku aku nggak suka kerja terikat, apalagi ngikut CPNS yg saat itu hanya 2 temanku yg nyogok yg keterima, krn uang jutaan utk nyogok aku tak punya, kalaupun punya saat itu mending buat memberi tambahan layanan buat murid2 les privat di rumahku. Yap …. bekerja sendiri kemerdekaannya 100 % , tak terbeli dengan uang !🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: