Batik Banyumas

07Mei08

Sebuah rumah di Jalan Kebutuhan No 13, Sokaraja Kulon, Kecamatan Sokaraja Banyumas penuh oleh kain batik. Sebagian berupa lembaran kain, yang lain sudah tertata berbentuk hem, rapi. Si empunya rumah, Sugito, 67 tahun, sibuk melipat dan memasukkannya ke lemari kaca. Maklum, belakangan ini pesanan terhadap batik banyumas sedang tinggi.

Sebelumnya, setelah tahun 1970, batik banyumas seperti mati suri. Di pasar sendiri, orang lebih mengenal batik dari Pekalongan, Jogjakarta maupun Solo. Masalahnya ada pada harga. Batik Pekalongan yang banyak beredar di pasar diklaim sebagai batik printing, yakni batik yang dibuat dengan tenaga mesin. “Batik printing hanya membatik pada satu sisi kain, yang lain kosong,” ujar Sugito.

Sekretaris Koperasi Persatuan Pengusaha Batik Indonesia (Perbain) Kabupaten Banyumas, Ahmad Dawahis (70), mengatakan, Batik Banyumas mulai diproduksi sejak tahun 1962. Salah satu kekayaan tradisi Banyumasan itu pernah mencapai puncak kejayaan hingga tahun 1970. Ketika itu, Kabupaten Banyumas mempunyai sedikitnya 105 pengusaha batik. Sebagian besar berada di wilayah Kecamatan Sokaraja, yang lain berada tersebar di Kota Banyumas lama dan Kranji, Kecamatan Purwokerto Timur.

Di tahun itu, pengobeng (tenaga pembuat batik-red) mencapai ribuan. “Bisa mencapai sekitar 5000 sampai 6000 pengobeng,” ujarnya. Produksi pengusaha batik itu sendiri bergantung kepada keuletan kerja ribuan pengobeng. “Sangat banyak, Perbain dulu juga ikut membantu pemasaran dengan mengirimkan produksi batik ke Perbain pusat,” tandasnya.

Pada masa keemasan itu, tiba-tiba batik printing dari Pekalongan, Jogjakarta masuk ke wilayah Banyumas. Menawarkan harga yang murah, pasar, akhirnya merontokkan pengusaha batik di Banyumas satu persatu. Sekarang, data yang ada di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) hanya ada 12 pengusaha batik yang masih bertahan, tersebar di berbagai kecamatan. Jumlah pengobeng yang ribuan, kini hanya ada sekitar 446 pengobeng. Kebanyakan di antara mereka adalah pewaris usaha batik dari era 70-an.

Pembuatan batik model printing, membuat harga baju seragam bermotif batik hanya Rp 30-40 ribu. Sementara batik cap bisa d iatas Rp 50 ribu. Batik tulis dihargai ratusan ribu, bahkan mencapai jutaan rupiah. Sekarang, pelaku usaha batik di Banyumas tetap bertahan dengan membuat batik tulis, batik cap dan sedikit di antaranya yang menggunakan sablon. Akibatnya, harga lebih tinggi ketimbang batik printing asal Pekalongan, Solo atau Yogyakarta.

 

Situasi dunia perbatikan yang kritis menggugah Pemkab Banyumas bergerak. Bupati menerbitkan Surat Edaran (SE) Bupati tertanggal 20 September 2003. Isinya menghimbau Pegawai Negeri Sipil (PNS) mengenakan Batik Banyumasan setiap Jumat. Tak hanya itu, sejumlah pengusaha juga mendapat suntikan dana dan ikut pelatihan batik di Jogjakarta.

Selain itu Pemkab juga ikut menyertakan Batik Banyumas dalam berbagai pameran sebagai promosi.

Sugito pemilik batik Cap R. mengatakan, sejak promosi digencarkan, dia mempu memproduksi 1050 potong perbulan tahun ini. Dibandingkan tahun 2003 yang hanya memproduksi 250 potong per bulan, kenaikan mencapai 250 persen. “Sekarang lebih baik, mudah-mudahan bupati besok masih tetap nguri-uri Batik Banyumasan,” tandas Sugito. Tahun besok, bulan Februari ada Pemilihan Bupati di Banyumas.

Kurang lebih 3 tahun, Batik Banyumasan mulai mendapat tempat. Jumlahnya yang masih terbatas membuat pecinta batik dari kalangan menengah ke atas justru memburunya. Mereka terutama menggemari motif yang klasik. Bahkan para kolektor berburu peninggalan Batik Banyumasan produksi tahun 1970-an dengan harga jutaan rupiah.

Meski begitu, Sugito tetap saja ‘ketar-ketir’. Batik printing tetap menghantui usahanya. Suatu kali, dia berkisah, ada seseorang datang ke tempatnya mengaku akan memesan batik sebanyak 600 potong. Lantas, orang tersebut meminta motif yang digambar langsung oleh Sugito. Tanpa pikir panjang Sugito menyanggupi apa yang diinginkan konsumen. Beberapa minggu kemudian, justru motif yang dia buat sudah menjadi seragam dipakai orang-orang di terminal.

Selain kualitas, motif juga menjadi daya tarik Batik Banyumasan. Di Banyumas sendiri, kata Sugito memiliki begitu banyak motif. “Saya mengenal sekitar 150 motif Batik Banyumas,” ujarnya. Yang dia pajang di tempat usahanya hanya sebagian kecil. Di antaranya, lumbon, pringsedapur, kawung, limaran, tirtatejo, uger, sidomukti dan bondowono. “Wah saya tak bisa menyebutnya satu persatu,” ujarnya.

Yang lain, yang membedakan Batik Banyumasan dengan batik dari Solo atau Pekalongan adalah warna. Menurut Sugito, warna asli Batik Banyumasan adalah batik cokelat dan hitam dengan plataran warna kuning tua. “Biasanya Jogja maupun Solo warnanya putih,” tandasnya.

 



12 Responses to “Batik Banyumas”

  1. 1 elyswelt

    belum pernah aku liat batik banyumas nih
    aduh .. liat foto bapak diatas kok jadi inget alm.bapakku ya ..hiks !

  2. 2 christo

    mohon no hp atau rumah.
    saya mo print batik.
    lebar bahan 170cm.
    bisa gak pak.
    order banyak.
    atau tolong hubungi saya
    christo
    022-92607207, 08170977732
    segera ya pak. thx

  3. nyong ana tulisan anyar kyeeeh…waca ya

  4. terima kasih banyak untuk Juni yang menulis berita ini

    saya elvira, mahasiswi DKV Universitas Bina Nusantara sedang mencari bahan-bahan mengenai batik banyumasa untuk TA saya

    dan menurut saya berita ini sangat membantu

    jika boleh, saya ingin meminta ijin untuk menggunakan foto dalam berita yang anda tulis untuk Tugas Akhir/skripsi saya

    elf_uchiha@yahoo.com

  5. terima kasih banyak untuk Juni yang menulis berita ini

    saya elvira, mahasiswi DKV Universitas Bina Nusantara sedang mencari bahan-bahan mengenai batik banyumasa untuk TA saya

    dan menurut saya berita ini sangat membantu

    jika boleh, saya ingin meminta ijin untuk menggunakan foto dalam berita yang anda tulis untuk Tugas Akhir/skripsi saya

    elf_uchiha@yahoo.com

  6. 8 elfira

    Mba Juni senin besok saya akan pergi (lagi) ke Banyumas
    Ada saran dimana saya bisa menemui pembatik batik Banyumas selain Pak Sundari Sugito?
    Karena dosen saya minta keterangan jelas mengenai motif asli batik Banyumas yang belum terpengaruh oleh Yogya dan Solo
    terima kasih

    • 9 Juni

      Saya tau hanya itu, tapi saya ada teman yang punya pergaulan luas dengan para pembatik. Mudah2an, nanti dia bisa merekomendasikan siapa yang biasa njenengan wawancarai.

  7. 10 elfira

    oh gitu?
    wah terimakasih sudah dibantu ^^

  8. 11 elfira

    asik nih bahasannya
    oh yah nanti kalau elfira sudah dari sana, fotonya ta masukin di wordpress siapa tahu Juni mau pake juga ^^
    manggilnya apa yah enaknya ? ^^

  9. 12 ratna

    mba elfira mw TA ttg batik banyumas y???
    ambilnya ttg ap???
    motif or ap??? cz ak jg mw ambl ttg batik banyumas tp lg cri literatur
    mba pnya buku2 ttg batik g???
    sp tau qt bs tukar infrmasi

    gothie_gothie@yahoo.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: